Tuesday, June 02, 2009

PERASAAN SANG MALING

MALING SELALU MERASA TAKUT DAN WAS-WAS, DIA MENUTUPINYA DENGAN DALIH DAN CARA SANTUN DENGAN MENCOBA TERUS BERBUAT BAIK TERHADAP YANG ADA DISEKITARNYA.

WARNING BUAT MAJIKAN

BILA SEORANG MAJIKAN TIDAK SESUAI MEMBAYAR BURUHNYA DENGAN APA YANG MEREKA KERJAKAN, MAKA DIA MEMAKAN DAGING DAN DARAH KELUARGA BURUHNYA.

DAJAL VS ORANG BIJAK

DAJAL SELALU MENCARI ALASAN DAN PEMBELAAN AGAR KEPUTUSANNYA DIANGGAP BIJAK.

TAPI ORANG BIJAK SELALU MEMINTA MAAF BILA TIDAK MAMPU MEMBERI KEBIJAKAN.

2K

Tuesday, April 03, 2007

ALL BADS THING HAVE ALL GOODS THING
2k

FALSE IS ALWAYS TRY TO FIND ALIBI
2k

Wednesday, February 21, 2007

perusak

Angan kuat penuh kuasa
Menyusup dan menembus batas rasa
Mengoyak kenyataan
Bangkitkan segala nafsu fana

Hasrat mencabik cabik keheningan hati
Meluluhkan segala tara
Merenggut ketenangan jiwa
Melayang tanpa arah penuh angkara

Kesadaran memeluk nurani
merakit tali kendali
mencoba menata mata hati
sadarkan diri dari api mimpi

2k

Wednesday, December 20, 2006

THE PERCEPTION


Saya rasa memang warna ini bukan merah, karena warna merah adalah merah dan kita tak akan pernah menyebut warna kuning adalah merah. Tapi pertanyaan saya, apa asal muasalnya warna ini disebut kuning? Apakah hanya karena kesepakatan diantara kita atau ada factor lain yang menuntut warna ini kuning? Sehingga saat orang lain menyebut warna kuning diganti merah kita langsung spontan bilang salah.

Apakah anda setuju kalau semua itu hanya sebuah persepsi yang kita sepakati untuk bisa jadi acuan berkomunikasi diantara kita dan memudahkan hidup kita? Saya rasa sadar dan tidak sadar hidup kita ini tidak lepas dari persepsi-persepsi yang menjadikan hidup kita ini merasa enak, nyaman dan bisa jadi juga merasa terganggu, sebuah contoh misalnya mengenahi music rock, sebagian dari kita merasa senang dan begitu menikmati sedangkan yang lain bisa jadi ada merasa terganggu.

Bicara tentang persepsi sangatlah penting dan diperlukan dalam pekerjaan yang saya geluti di bidang advertising communication, karena sebuah iklan adalah alat komunikasi yang sifatnya bisa mempengaruhi, dan kecerdasan serta keahlian kita dituntut bukan hanya mampu menciptakan iklan yang “bagus” tapi seberapa efficient sebuah iklan itu bisa berfungsi dan mempengaruhi sasaran dan bisa masuk dalam pola pikir serta membentuk persepsi yang sejalan dengan logoika mereka.

Sangatlah sulit untuk bisa menciptakan persepsi yang bisa diterima oleh sasaran, maka sebuah sasaran sudah seharusnya dipilih segment mana yang mau dituju, sehingga sebuah persepsi yang diciptakan akan mudah dan effectif sesuai dengan karakter sasaran yang dimaksud, dan pastilah kita harus terus dan terus meyakinkan kepada sasaran mengenahi persepsi apa yang kita mau bentuk sampai sebuah persepsi itu menjadi bagian dari hidup mereka. So, let’s start from today to call this color is red, do you agree?

Kita hidup dalam dunia persepsi dan mau atau tidak kita hidup didalamnya.

Wednesday, August 09, 2006

Mezzo VS A Mild

Saat pertama melakukan activity campaign dan melihat materi-materi yang ada terutama TVC dari Mezzo Mild, saya bilang ke temen saya, product ini tidak akan sukses, baik dipasaran maupun pencapaian image melalui komunikasi yang ada. apalagi kalau mau mengambil market share dari sampoerna A Mild yang sudah berhasil dan boleh dibilang sukses atau sukses sekali.

Temen saya seakan tidak percaya walaupun dia sedikit mengiyakan. Tapi sampai hari ini, rasanya produk ini tidak begitu terlihat kesuksesannya, temen sekantor tidak ada yang merokok, temen sekomplek tidak ada yang merokok, temen main band tidak ada yang merokok, teman main badminton tidak ada, temen main bilyar tidak ada yang merokok dan GRO nya juga tidak.

Semua orang kagum dengan aktivitas yang dilakukan, tapi begitu aktivitas habis, ya semuanya habis, orang ingat, orang kagum tapi kenapa gak mau membeli?. Perokok memang susah untuk berubah, apalagi dengan produk baru yang rasanya masih belum familiar. Tapi kenapa Sampoerna A Mild bisa ya waktu itu?

Pasti ada yang salah! Pasti beda apa yang dijanjikan ke konsumen antara Sampoerna A Mild dengan Mezzo Zo Mild?. Bikin strategy memang tidak gampang, campaign besar-besaran karena ada budget memang tidak jaminan, produk bagus belum tentu dibeli. Jadi gimana ya?

Kesalahan berkomunikasi memang menyakitkan, uang melayang, bikin kita susah mikir untuk cari jalan keluar, mentally juga down. Kenapa kok gak berhasil ya?

Seseorang bisa terbujuk untuk membeli barang atau produk tertentu karena seorang tersebut merasa bahwa produk itu cocok untuk orang tersebut, atau orang tersebut memakai atau membeli dengan alasan bahwa komunitas juga memakainya dalam arti produk tersebut jadi trend. Jadi selama kita tidak bisa menciptakan suatu bentuk komunikasi dan persepsi untuk produk kita, ya pasti akan gagal.

Keberhasilan Sampoerna A Mild tidak lepas dari suatu bentuk komunikasi yang mempunyai benefits ke konsumen, dan bukan benefits produk saja, tapi lebih dominan kepada customers benefits, emotional benefits yang bisa dirasakan dan sekaligus menciptakan persepsi bahwa masyarakat merasa terwakili dengan komunikasi yang disampaikan dalam campaign-campaign-nya.

Kalau Mezzo kalah dengan A mild saya rasa itu sangat wajar, karena dalam kampanya Mezzo hanya menjanjikan dan dominan pada produk benefits orientation, sedangkan A mild lebih dominan pada emotional benefits atau customer benefits. Secara verbal kita bisa merasakan langsung apa yang A Mild lakukan. Kita sebagai individu atau masyarakat merasa terwakili oleh apa yang dilakukan A Mild, dan itulah yang membuat orang bangga dan pada akhirnya sebuah image produk-pun terbentuk dan masyarakat dengan bangga menikmatinya.

Jadi kalau sebuah persepsi tidak bisa kita ciptakan dalam komunikasi dan masyarakat tidak dapat out point dan merasakan benefits nya secara emotional, saya yakin anda hanya membuang uang anda dengan sia-sia. Mau tau cara buang uang tidak sia-sia? tanya temen-temen saya!

Thursday, July 27, 2006

Spend money for useless campaign

Beberapa klien telah melakukan hal yang sia-sia dalam melakukan kampanye untuk produk-produk mereka, dan mereka tidak sadar kalau uang mereka terbuang dalam waktu yang sangat singkat, uang mereka hilang dan tidak mendapatkan apapun, kecuali hanya awareness dari product yang diiklankan, dan itupun akan hilang juga dalam waktu yang singkat saja, kecuali harus mengeluarkan uang sebanyak-banyaknya lagi untuk bikin kesalahan yang sama, kenapa?

Coba ingat-ingat berapa banyak commercials yang heboh atau bahkan di looping berkali-kali dalam waktu 15” sampai membuat kita “negh”. Tapi apakah pada saat ini mereka jadi sebuah brand yang besar yang membuat orang memakai atau loyal pada product tersebut?

Kalau sebuah nama product harus disebut berulang-ulang atau nama perusahaan juga disebut berulang-ulang bahkan memasang logo dengan ukuran yang sudah tidak punya nilai estetika lagi, dan itu diyakini bisa mem-build product jadi sebuah brand yang kuat dan membuat orang menggunakan serta ketergantungan pada brand tersebut, Alangkah gampangnya menciptakan sebuah iklan atau komunikasi untuk membuat product jadi sebuah brand yang dicintai dan dibutuhkan oleh masyarakat.

Karena awareness saja tidak cukup, karena memorable saja tidak cukup, karena good quality product tidak akan bisa dibuktikan dalam sebuah commercials, hanya bisa dijanjikan dan itupun tidak akan pernah membuat orang percaya.

iklan mempunyai sifat; 1. create news, 2. create image, dan yang ke 3 create demand. Kalau anda mau menambahkan yang ke 4 create sales, dan itu anda jadikan sebagai satu pegangan untuk memenangkan persaingan, anda tidak salah, tapi itu akan memakan banyak uang dan tidak akan menciptakan kecintaan dan ketergantungan pada product anda.

Konsumen akan mencintai pada product anda, hanya bila mereka merasa; puas dan bangga memakainya, dan terwakili apa yang mereka mau, yang mencakup keadaan dan status sosial dalam kehidupanya, dan itu harus berbeda dengan product kompetitor yang mempunyai product benefits yang sama. Jadi sudah semestinya kita harus memberikan benefits lain yang berbeda. Selamat berfikir, atau tanya teman-teman saya.

Wednesday, July 19, 2006

Ber-Tuhan itu menenteramkan

Pernah pada suatu waktu, rasanya kepala-ku berwarna merah dengan rambut kering seakan gampang sekali terbakar bila tersulut api, otak melepuh bak bubur setengah matang karena memendam keinginan yang belum tersampaikan. Ada nafsu yang membawa kemarahan, karena mungkin takut dikecewakan, ada gelisah yang mengusik karena belum tersampaikannya kemauan.

Perasaan sensitive menyelimuti semua hal kejadian, muka kenceng, alis ibarat benang bilasan yang kaku menakutkan. Semua suaru seakan tertuju dan meledek situasi yang terjadi, semua hal berjalan menyimpang dari alur rutinitas jalannya detak waktu, carut marut tak teratur, morat-marit karena semua orang jadi ngiprit.

Maksud hati mau meredam kemarahan karena kekecewaan apa yang didapat saat ini tidak sesuai dengan apa yang telah diperbuat, sudah begitu banyak yang aku lakukan, sudah tak terhitung walau pakai metode kumon sekalipun bentuk kontribusi yang kuberikan pada tempat aku bekerja, tapi apa, tidak ada perubahan? Bahkan bukan untuk diri sendiri, tapi untuk semua team yang telah bekerja.

Rasanya mulut ini mau berucap hal-hal yang tidak semestinya, walaupun di negaraku kata-kata itu beda maknanya dengan disini, seperti kata; FUCK, dinegeriku fuck artinya pisang ambon atau SHIT, di negeriku artinya karung goni, dan juga kata-kata lain yang di negeriku tak ada maknanya, seperti; Kontol, Jembut, maupun ngentot.

Itulah yang terjadi, dan memang tak mudah melepaskanya begitu saja, kadang aku juga bertanya pada diri sendiri, apakah emotional management-ku yang tidak bisa menjalankan konrol atau mungkin sudah tidak bisa mengatasi lagi, tak jarang aku mengeluarkan kata-kata sakti yang bisa membelah bumi jadi dua warisan kakek-ku dulu; GOBLOK BANGET NIH!.

Itulah kenyataan pahit (pakai H, kalau tidak itu rasa obat) yang terjadi sebelum aku melakukan action untuk memenuhi kemauanku untuk mendapatkan situasi 50:50 dari pihak yang punya wewenang absolut.

Hari H pun tiba, maksudnya hari hamis, dan aku bicara sama yang berwenang. Semua kuawali dengan background situation yang ada, baru ku sampaikan maksud dan tujuan secara rinci tanpa kututup-tutupi, dan ku back up dengan alas an yang cukup relevant tentunya. Dan jawaban pun kudapat disaat itu dengan hasil yang sangat memuaskan, memuaskan untuk meng-trigging membuka kamus terlarang yang tak kutemukan dinegeriku seperti; AN…, ah kuputuskan untuk tidak kulakukan dan kucoba kembali ke hakekat hidup yang memaksa kita juga untuk mau dan bisa menghadapi kenyataan.

Mungkin belum rejeki, Tuhan pasti akan memberi rejeki dari bentuk lain, amin!